Sabtu, 03 Januari 2015

Mengukur Prestasi Belajar?

Bismillahirrahmanirahim...

Assalamu'alaykum Warrahmatullahi Wabarakatuh...

          Raut wajah seorang gadis yang menggambarkan perasaan hatinya. Tak sedap memandang wajah seperti itu, murung dengan mata berkaca-kaca siap mendukung air dilangit. Apa yang terjadi? Hmm. Sebuah portal akademik bagian mahasiswa adalah masalahnya. Bagan khusus bagian KHS (Kartu Hasil Studi) menunjukkan penilaian mata kuliah masing-masing dengan sebuah huruf kapital. Wajah seperti itu sudah pasti hasil yang mengecewakan baginya.

            Ya, that's what happening for college student especially friends around of me. Inilah salah satu hal mengesalkan, mengukur prestasi belajar dengan lima huruf abjad pertama (A, B, C, D, E). Otak mahasiswa seakan tersetting dengan pemikiran nilai yang diperoleh berarti orangnya pintar, kurang pintar, mendekati bodoh, atau bodoh, adalah kesan orang lain. Begitupun institusi atau perusahaan yang mensyaratkan nilai IPK tertentu untuk bisa melamar kerja. Finally, dengan mudahnya perasaan senang muncul ketika IPK tinggi dan sedih ketika IPK rendah.

           Hati-hati dirancuni oleh nilai! :) Dengan mudah kita berkata "percuma belajar semalam suntuk, toh nilainya jelek". Yah, akan menjadi useless memang kalau orientasinya nilai, dibalik itu ada tujuan utama dari belajar adalah ilmu yang senantiasa menunggu masuk ke memori.